Madiun, INFO_PAS – Hari terakhir kunjungan Idul Fitri di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pemuda Kelas IIA Madiun mengakhiri rangkaian momen penuh suka dan duka yang melibatkan warga binaan dan keluarga, Kamis (03/04). Meskipun hanya sekejap, kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang terkasih di hari yang penuh makna ini meninggalkan kesan mendalam dan penuh emosi.
Selama beberapa hari terakhir, Lapas Pemuda Madiun membuka pintunya untuk para warga binaan yang ingin merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga. Bagi mereka yang sudah lama terpisah oleh jeruji besi, momen ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin kembali ikatan dengan orang-orang tercinta. Hari terakhir kunjungan, yang berlangsung pada hari ini, menjadi puncak dari kebahagiaan dan perasaan haru yang campur aduk.
“Saya tidak tahu harus berkata apa. Bisa bertemu dengan anak saya setelah sekian lama adalah hal yang luar biasa. Kami hanya bisa berharap semoga dia bisa berubah dan menjadi lebih baik,” ujar seorang ibu dengan mata berkaca-kaca. Terlihat bagaimana pertemuan ini memberikan kekuatan baru bagi kedua belah pihak, meskipun kenyataan bahwa waktu yang diberikan terbatas membuat mereka merasa tidak cukup untuk berbagi cerita dan rindu yang sudah lama terpendam.
Meskipun dipenuhi sukacita, ada pula duka yang menyelimuti momen pertemuan tersebut. Waktu yang terbatas membuat beberapa warga binaan dan keluarga merasa belum sempat mengungkapkan semua perasaan yang ingin disampaikan. Perpisahan di hari terakhir kunjungan pun berlangsung penuh haru. Tak jarang, air mata pun mengalir saat pertemuan singkat itu harus berakhir.
“Saya ingin lebih banyak waktu dengan keluarga, tapi waktu yang diberikan sangat terbatas. Momen seperti ini sangat berarti, tetapi juga membuat saya merasa sedih,” kata salah satu seorang warga binaan yang tampak menahan tangis saat mengucapkan selamat tinggal kepada istrinya.
Namun, meskipun pertemuan itu terasa singkat, kunjungan ini memberikan harapan baru bagi banyak pihak. Kepala Lapas Pemuda Madiun, Wahyu Susetyo, mengungkapkan bahwa kunjungan Idul Fitri bukan hanya sekadar pertemuan singkat, melainkan bagian dari proses rehabilitasi yang lebih mendalam.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk memperbaiki diri, tidak hanya dengan mereka menghadap ke keluarga, tetapi juga dengan memberi mereka ruang untuk merasakan kebersamaan. Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk memberikan pengampunan dan harapan baru, dan kami berharap kunjungan ini bisa memperkuat semangat mereka untuk berubah,” ujar Wahyu Susetyo.
Hari terakhir kunjungan Idul Fitri di Lapas Pemuda Madiun memang penuh suka duka. Bagi warga binaan dan keluarga, itu adalah momen penuh harapan akan perubahan dan kebersamaan. Meskipun mereka harus berpisah untuk sementara, semangat Idul Fitri yang mengajarkan tentang pengampunan dan perubahan tetap hidup dalam hati setiap individu yang terlibat. (Humas Lapas Pemuda Madiun)
0 Komentar